Abdulloh Faqih

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

HIDUP DALAM DAKWAH, DAKWAH SAMPAI MATI, MATI DALAM DAKWAH

(Oleh: Abdulloh Faqih, M.Ag)

Judul Buku : Living hadith in the Tablighi Jamaat

Pengarang : Barbara D. Metcalf

Penerbit : The Journal of Asian Studies

Tahun Penulisan : 1993

Tulisan Barbara D. Metcalf ini membahas tentang tradisi living hadis dalam organisasi Jamaah Tabligh di India. Baginya, istilah living hadis bagi para pengikut Jamaah Tabligh memiliki dua makna, yakni: “mencoba hidup dengan hadis (live by hadith)” dan “menginternalisasi teks hadis sampai pada titik bahwa mereka bercita-cita secara ideal dalam arti menjadi hadis yang hidup (become living hadith)” (Followers attempt to live by hadith but in such a way that they aspire to internalize the written/heard texts to the point that they ideally become, in a sense, “living hadith”). Metcalf mencontohkan bagaimana teks terjemah ringkasan hadis berbahasa Urdu, Tablighin nisab yang lebih dikenal dengan kitab Fazailil a'mal yang ditulis oleh Maulana Muhammad Zakariyya Kandahlawi (1898- 1982), seorang ulama Jamaah Tabligh, tidak saja digunakan untuk mengkomunikasikan ajaran-ajaran gerakan Jamaah Tabligh tetapi juga membentuk organisasi dan pengalaman gerakan tersebut. Living hadis karenanya tidak saja dimaknai sebagai gejala yang tampak di masyarakat berupa pola-pola perilaku yang bersumber dari hadis Nabi, tetapi juga proses internalisasi hadis ke arah pencapaian cita-cita ideal untuk menjadikan hadis sebagai “pedoman hidup yang terus hidup”.

Munculnya gerakan Jama’ah Tabligh ini adalah respon Maulana Muhammad Ilyas atas pelbagai persoalan sosial keagamaan yang terjadi di India ketika itu. Pertama, membangkitkan kembali keimanan dan menegaskan ulang identitas relijius-kultural Muslim. Dalam konteks ini, kelahirannya dapat dikatakan sebagai bentuk ortodoksi Islam yang disegarkan kembali, maupun sebuah sufisme yang diperbaharui. Kedua, kemunculannya juga merupakan tanggapan langsung terhadap gerakan-gerakan pengalihan agama Hindu yang agresif yang dilakukan oleh gerakan Shuddhi (penyucian) atau gerakan "re-conversion" (pertobatan kembali) oleh Hindu Arya Samaj, yang melancarkan upaya besar besaran untuk meng-Hindu-kan kembali orang-orang yang telah memeluk Islam pada masa lalu. Ketiga, mengislamkan kembali Muslim dari praktik-praktik keagamaan dan kebiasaan sosial nenek moyang orang Hindu. Bukan hanya itu, ada usaha pemusyrikan dan pemurtadan yang diawali oleh para misionaris Kristen, di mana Inggris saat itu sedang menjajah India. Gerakan misionaris ini, didukung Inggris dengan dana yang sangat besar. Mereka berusaha membolak-balikkan kebenaran Islam, dengan menghujat ajaran-ajarannya dan menjelek-jelekkan Rasulullah SAW.

Tulisan Barbara D. Metcalf disini sebenarnya kajian atas beberapa kitab paling penting dalam Jamaah Tabligh, yang diantaranya adalah;

1. Fadha’il al-A’mal atau disebut juga dengan Tabligh al-Nisab, karya Mawlana Muhammad Zakariya al-Kandahlawi. Kitab ini mulanya berbahasa Urdu dan sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Kitab ini berisi tujuh keutamaan, yaitu: keutamaan al-Qur’an, keutamaan shalat, keutamaan dzikir, keutamaan tabligh, hikayat para sahabat, kemerosotan umat dan keutamaan ramadhan.

2. Kitab lain yang juga dijadikan pegangan standar bagi para pengikut Jama’ah Tabligh ini adalah Hayatus Sahabah, karya Mawlana Yusuf alKandahlawi, putra Maulana Muhammad Ilyas,

3. Muntakhab Ahadits, yang juga merupakan karya Maulana Yusuf al - Kandahlawi yang disusun kembali oleh Maulana Sa’ad al-Kandahlawi. Dalam kitab Muntakhab Ahadits inilah dijelaskan secara detail enam prinsip (ajaran) gerakan Jama’ah Tabligh, yang kemudian mereka sebut dengan “enam sifat sahabat”. Keenam prinsip tersebut adalah: Pertama, mewujudkan hakekat syahadat; Kedua, shalat; Ketiga, ilmu disertai dzikir; Keempat, memuliakan sesama muslim; Kelima, ikhlas beramal (meluruskan niat); dan Keenam, dakwah dan tabligh di jalan Allah. Keenam prinsip tersebut juga merupakan metode dakwah yang dikembangkan oleh Jama’ah Tabligh. Bahkan, mereka mengklaim bahwa enam prinsip yang dikenal sebagai “enam sifat sahabat” ini merupakan cara yang paling mudah dan ringkas untuk mendeskripsikan seluruh ajaran Islam.

Barbara D. Metcalf juga membahas tentang kehidupan wanita jamaah tabligh (jamaah masturoh) sangat damai, dan jauh dari hiruk pikuk kepentingan duniawi. Mereka berbuat semata-mata karena Allah. Tak ada bahasan politik dan menghindari ikhtilaful mazahib dalam jihad para masturoh seperti halnya para suami mereka. Tugas mereka hanya berbhakti kepada Allah dan rasulNya bersama suami mereka. Dalam jamaah tabligh, tugas dakwah bukan untuk kaum laki-laki saja, tetapi juga tanggung jawab seorang perempuan. Sebagaimana di zaman Rasulullah, perempuan juga ikut berdakwah bahkan terlibat aktif dalam peperangan saat itu, namun saat ini tugas terpenting mereka adalah menyampaikan kisah-kisah teladan kepada anak-anak mereka.

Kelebihan yang paling menonjol dari tulisan Barbara D. Metcalf ini adalah munculnya terma Living Hadits yang sebelumnya sudah ada istilah Living Sunnah dan Living Qur’an, sehingga di kemudian hari menjadi kajian baru yang menarik di kalangan akademisi, menggeser kajian living sunnah dan bahkan menjadi nama sebuah Jurnal di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tulisan ini juga sangat jelas sebagaimana membaca kitab tafsir tahlili.

Kekurangan dalam makalah ini adalah banyaknya kisah-kisah yang dimuat, sehingga terasa menjenuhkan. Dari segi tampilan juga kurang menarik, baik dari bentuk font maupun layoutnya dan juga sulit diterjemahkan karena banyak idiom yang kurang difahami oleh mesin translate, sehingga membutuhkan banyak bacaan pendukung untuk memahaminya.

Sekedar tambahan informasi tentang Living Hadis, disini saya mengutip secara ringkas penjelasan Saifuddin Zuhri Qudsy dalam Jurnal Living Hadis, UIN SUKA, Volume 1, Nomor 1, Mei 2016. Beliau berpendapat;

“Secara lebih detail dan terperinci, kemunculan terma living hadis ini saya petakan menjadi empat bagian.

Pertama, sebagaimana yang telah disebutkan, living hadis hanyalah satu terminologi yang muncul di era sekarang ini. Secara kesejarahan sebenarnya ia telah eksis, misalnya tradisi Madinah, ia menjadi living sunnah, lalu ketika sunnah diverbalisasi maka menjadi living hadis.

Kedua, Pada awalnya, kajian hadis bertumpu pada teks, baik sanad maupun matan. Di kemudian hari, kajian living hadis bertitik tolak dari praktik (konteks), fokus kepada praktik di masyarakat yang diilhami oleh teks hadis. Sampai pada titik ini, kajian hadis tidak dapat terwakili, baik dalam ma’ānil ḥadīṡ ataupun fahmil ḥadīṡ.

Ketiga, dalam kajian-kajian matan dan sanad hadis, sebuah teks hadis harus memiliki standar kualitas hadis, seperti ṡaḥiḥ, hasan, daīf, maudu’. Berbeda dalam kajian living hadis, sebuah praktik yang bersandar dari hadis tidak lagi mempermasalahkan apakah ia berasal dari hadis sahih, hasan, daīf, yang penting ia hadis dan bukan hadis maudu’. Sehingga kaidah kesahihan sanad dan matan tidak menjadi titik tekan di dalam kajian living hadis

Keempat, membuka ranah baru dalam kajian hadis. Kajiankajian hadis banyak mengalami kebekuan, terlebih lagi pada awal tahun 2000an kajian sanad hadis sudah sampai pada titik jenuh, sementara kajian matan hadis masih juga bergantung pada kajian sanad hadis”.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search